Ada Bunda “Deus Ex Machina”

 

Salah satu hal yang paling sulit ditemukan dalam jam utama (prime time) kebanyakan kanal TV swasta Tanah Air adalah kesungguhan. Tenanan, jika dalam istilah bahasa Jawa. Segala sesuatu terang benderang dilakukan dalam spirit ketergesa-gesaan, sehingga siapapun tak bakalan mampu (dan sempat) mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Ini terlihat jelas dalam sinetron serial Putri Bidadari yang tayang di RCTI.

Episode ke-17 serial itu yang diputar Selasa 18 September 2012 tempo hari berkisah tentang kegelisahan si kecil Putri (Qheyla S. Valendro) akan kesehatan neneknya, Nek Ida (Nena Rosier). Nek Ida pernah pingsan sehingga dipanggilkan ambulans, namun menolak pergi dan lebih baik pulang ke rumah jalan kaki.

Putri ingin tahu apa yang terjadi pada Nek Ida, namun sang nenek merahasiakan riwayat penyakitnya. Ia kemudian dikasih tahu tetangganya, Tante Aini (Masayu Anastasia), untuk mencari keterangan di ruangan arsip rumah sakit tempat Nenek Ida menjalani tepari, eh… terapi. Ditemani kawan-kawannya, Putri pun menyelinap bak agen rahasia menuju ruang arsip guna mencari tahu apa sesungguhnya penyakit yang diidap sang nenek.

Setelah rahasianya terkuak, Nek Ida putus asa dan pergi meninggalkan Putri untuk mencari pengobatan. Putri panik ditinggal sendiri. Untung ia dibantu gurunya di Sekolah Putri Ingin Pintar, Bidadari Bundandari (Sandra Dewi). Berkat bantuan burung-burung dara ajaib, Nek Ida berhasil ditemukan dan mereka bertemu lagi dalam hujan.

Sebagaimana sinetron prime time lain yang kejar tayang, Putri Bidadari juga dibuat dengan segala hal yang serba sekenanya. Tak perlu lagi bicara soal kualitas penulisan, akting, hingga hal-hal berbau teknis seperti pencahayaan, angle kamera, atau bahasa gambar. Semua yang terlibat hanya dibebani satu target tunggal: yang penting jadi ASAP (as soon as possible). Kita sebagai pemirsa pun disuguhi sesuatu yang tidak dikerjakan dengan penuh kesungguhan.

Tengok saja dari logika cerita. Mengapa Nek Ida serepot itu merahasiakan penyakitnya? Anak-anak kecil di seluruh dunia tahu bahwa nenek, ibu, atau ayah mereka sakit keras. Tentu anak-anak itu akan sedih, tapi so what? Anak seumuran Putri belum bisa membedakan mengapa Lou Gehrig syndrome, misalnya, jauh lebih gawat daripada masuk angin! Sakit ya sakit. Harus dibawa ke dokter. Sudah. Itu saja yang anak-anak perlu tahu. Lalu mereka akan kembali main seperti biasa.

Lalu Nek Ida minggat pergi diam-diam dengan meninggalkan surat melankolis pada Putri untuk mencari pengobatan. Pengobatan ke mana? Rumah sakit di Tuvalu? Bukankah jauh lebih mudah untuk tetap saja meneruskan tepari, eh… terapi di rumah sakit yang sama dan siangnya, sorenya, atau malamnya sesudah terapi kembali pulang ke rumah dan kumpul lagi dengan Putri?

Dan adegan Putri dan kawan-kawan menyelinap di rumah sakit untuk mencari ruang arsip menunjukkan betapa sebagian dari kita selalu saja menganggap remeh apapun yang diberikan untuk anak-anak. Apakah jika anak-anak mengenakan seragam dokter dan jas laboratorium warna hijau, identitas mereka sebagai anak-anak akan dengan seketika tersamar? Atau apakah rumah sakit itu memang dipenuhi tenaga ahli medis dan pegawai yang masih kanak-kanak?

Lebih ganjil lagi karena Putri cs. ternyata tidak memasuki ruang arsip, melainkan locker room (tentu saja, penonton kanak-kanak belum bisa membedakan mana ruang arsip mana locker room). “Arsip rekam medis” Nek Ida ditemukan berada di locker yang berabjad “I” (karena nama sang nenek kan Ida, entah siapa nama lengkapnya!)—menjadi satu-satunya stofmap yang ada di situ, dan bukannya berjajar menyatu dengan puluhan arsip huruf “I” lain sebagaimana yang lazim kita jumpai saat mencari arsip.

Dan yang paling mengganggu adalah keberadaan tokoh Bundandari yang di sekolah mengajarkan sulap itu. Ketika dimintai tolong oleh Putri untuk mencarikan Nenek Ida, sang bunda cukup minta bantuan burung-burung merpati ajaib. Lalu burung-burung itu membantu menunjukkan jalan menuju Nek Ida. Dan ketika jalannya ditelusuri, voila…! Nek Ida sedang duduk sendirian di sebuah gubuk entah di mana.

Kita melihat, Bundandari ini akan menjadi solusi bagi semua permasalahan Putri dalam episode-episode berikutnya. Tentu bukan dengan pemecahan masalah seperti yang kita ajarkan pada anak-anak dalam kehidupan sehari-hari, melainkan dengan teknik problem-solving yang seajaib mengubah kelinci menjadi burung serta bercakap-cakap dengan burung merpati.

Lalu kita sadar, karya seni modern dan masih menggunakan karakter deus ex machina? Tidakkah kita tertinggal sekitar 3.000 tahun saat tokoh-tokoh semacam ini masih sering menghuni naskah-naskah pentas tragikomedi era Yunani Kuno!?

Sebagai sebuah sinetron untuk anak, Putri Bidadari tidak menawarkan apapun yang cukup berharga untuk diserap oleh anak-anak. Dari logika cerita yang berupa “logika buatan sendiri” saja, kita sudah tahu bahwa seharusnya anak-anak tak memasukkan serial ini dalam daftar tontonan petang mereka sebelum belajar. Membiarkan mereka menyaksikan tontonan-tontonan yang tidak logis semacam ini akan menempa mereka menjadi pribadi yang berpeluang besar untuk tidak logis juga pada masa remaja dan dewasa nanti.

Ini diperparah dengan keberadaan Putri yang tidak mengajarkan soal kemandirian. Apapun yang terjadi, ia akan selalu dibantu secara ajaib oleh “Bunda Deus Ex Machina” yang mengisi nyaris seluruh frame time-nya dengan close up tengah tersenyum haru seperti ABG kencur bertemu dengan artis-artis SM Town itu!

Jangan salahkan jika para pemirsa Putri Bidadari terdidik untuk menjadi pribadi yang gemar bergantung pada orang lain. “Ah, gakpapa, ntar kan ada yang mBantu”. Bandingkan dengan para pemirsa cilik film Disney seperti Homeward Bound: The Incredible Journey (1993), misalnya, yang menonton penuh minat pada Chance, Sassy, dan Shadow yang hanya untuk sebuah tujuan sederhana—yaitu mencari majikan mereka—harus berjuang sendiri (on their own) bertualang menempuh jarak ratusan kilometer. Tak ada penolong, tak ada deus ex machina whatsoever. Nasib mereka bergantung sepenuhnya pada perjuangan mereka sendiri.

Pelajaran terpenting tentu saja, jangan biasakan mereka menikmati sesuatu yang dibuat tidak dengan sungguh-sungguh. Kita tak mau mereka kelak juga menjadi orang yang tak pernah sungguh-sungguh dan hanya sekadar meraih hasil lewat berbagai jalan pintas. (Wiwien Wintarto)

Judul Program: “Putri Bidadari” – Episode 17 Stasiun Penayang: RCTI Hari Penayangan: Selasa, 18 September 2012 Waktu: Pukul 18.00-19.15 WIB Durasi: 75 menit (25 menit iklan) Materi Iklan: Magnum Gold, SGM, TRESemme, KPU DKI Jakarta (Pilgub DKI), Pop Mie, Mizone, Clear, Ale-ale, Co Sutradara: Umam AP Pemain: Masayu Anastasia, David Chalik, Nena Rosier Penulis Skenario: Serena Luna Produser: Mitzy Christina, Novi Christina Produser Eksekutif: Leo Sutanto Rumah Produksi: SinemArt

Kredit foto:

Putri Bidadari (http://tvguide.co.id/deskripsi-acara/sinetron-putri-bidadari-29-08-2012)

Homeward Bound: The Incredible Journey (http://en.wikipedia.org/wiki/File:Homeward.bound_dvd_cover.jpg)

10 responses

  1. sebuah tayangan memang harus memiliki sebuah pesan untuk para penontonnya. kalo emang tidak ada pesan apapun yang dimiliki ya percuma juga fungsinya hanya untuk menghibur doang tidak ada unsur menginformasi atau mendidik. namun penggunaan logika dicerita dalam sebuah film/sinetron terkadang dikesampingkan untuk mempertahankan emosi penonton. contoh dalam film koboy ketikan si koboy menembak lawannya disitu tidak ada adegan me-reload isi peluru karna disitu letak emosi dipertahankan.

  2. Benar Mbak Viany. Memang demikianlah logika kerap dianggap remeh. Terima kasih atas kunjungannya ya. Silakan menulis di blog kami…!🙂

  3. Saat lapar dan pengin makan, kalau makanan dan lauk yang tersedia hanya kentang goreng slapstick, burger irasional saus opulent, dan jus utopia, ya itu yang kita makan, itu yang kita telan. Butuh terobosan revolusioner sineas muda berbakat dari bumi khatulistiwa yang gerah untuk menyajikan menu yang lebih organik. Sambel goreng tempe dan sayur lodeh ala si doel anak sekolahan dengan setting abad 21.

    1. Benar Pak Harjanto Halim. Mereka bilang rating tinggi, berarti diminati. Tapi mau nonton yang mana lagi kalau adanya memang itu? Hanya itu “lauk” yang tersedia. Sangat butuh terobosan sineas baru.

  4. Yuktiasih Proborini | Balas

    Pernah sekali dan sekilas saya lihat sinetron ini. Si anak berdoa: “Oh bidadari tolong aku, berikan aku bla..bla..bla…”
    Kenapa anak diajarkan meminta bukan kepada Tuhannya…
    Pembodohan ala Bunda Deus Ex Machina, begitukah?

    1. Benar demikian Mbak Yuktiasih. Anak-anak “dididik” untuk langsung minta tolong bila tengah dalam kesulitan. Tidak diajari untuk menjadi tangguh dan bergantung pada kemampuan diri sendiri, dengan tentu tidak melupakan doa.

  5. ulasannya cukup menarik

  6. fiuh aku kesal setengah mati ama tayangan tidak mendidik ini
    awalnya aku sempat respek sama bundadari karna sbelum2nya mereka bisa ngasih moral value yang aku jelasin lbih lanjut ke adik2ku *meski ya harus pintar2 ngejelasinnya*tapi ep tadi bikin aku senewen
    terutama pas putri berada di keluarga baru yang punya dua anak kecil dan astaga, kecil2 udah bisa2nya ngomong sejahat itu.kelakuannya pun bak artis dewasa antagonis profesional
    ditambah kemunculan cerita ‘cinta segtiga terselubung’ antara putri, saudara tirinya, dan baro siapa itu namanya

    mereka 7 taon aja belum
    miris aku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: