Sering Main SimCity

 

Pada tahun 1981, Departemen Penerangan RI (sekarang menjadi Kemkominfo) memutuskan untuk menghapus siaran iklan di TVRI. Alasannya, 30 menit acara Manasuka Siaran Niaga yang tayang tiap pukul 20.30 WIB itu memicu sifat konsumerisme warga. Orang ramai-ramai beli bukan karena butuh, namun lebih karena dipengaruhi iklan.

Kini, 31 tahun kemudian, siaran iklan ternyata tidak hanya membuat kita jadi hobi belanja, tapi juga menawarkan mimpi (yang bagi sebagian besar kalangan masyarakat jelas amat tak terjangkau). Salah satunya ada pada tayangan advertorial The Royal yang diselipkan dalam programa 8-11 On the Weekend di Metro TV hari Minggu (7/10) lalu.

Betapa tak akan dibuai mimpi bila kita disuguhi pariwara tentang sebuah cluster kompleks perumahan yang apapun ada di situ. Mulai satpam 24 jam, waterpark, taman bunga, taman bermain untuk anak, danau buatan nan indah, plus replika beberapa landmark di Prancis seperti Menara Eiffel, gerbang Arch of Triumph, hingga taman bunga Versailles yang terkenal itu!

The Royal sendiri adalah sebuah cluster di dalam kompleks perumahan Grand Cibubur Country yang berlokasi di Cikeas, tak jauh dari kediaman pribadi Presiden SBY. Konsep yang diusung dalam hunian tersebut adalah one stop living, tempat semua fasilitas ada sehingga penghuni tak perlu bepergian terlalu jauh untuk berkantor, berbelanja, serta berwisata.

Advertorial tersebut seperti biasa dibawakan oleh Feni Rose, yang mengobrol dengan Marketing Director PT Agung Sedayu Group, Eveline Setiawan. Ada pula host tamu yaitu presenter Sonny Tulung yang “dikisahkan” tertarik untuk membeli unit rumah di dalam cluster The Royal.

Dengan gayanya yang bak seleb, Eveline pun mulai memaparkan semua kehebatan fasilitas di The Royal. Salah satunya yang terpenting adalah akses jalan, yang tengah dibangun dan akan selesai akhir tahun 2012 ini. Akses jalan tersebut akan makin memudahkan penghuni The Royal untuk mencapai fasilitas-fasilitas penting dengan mudah, salah satunya yang terpenting bagi warga Jadetabek saat ini adalah, apa lagi jika bukan, mal!

Kelebihan lain cluster The Royal adalah segala fasilitas yang ada di dalamnya, seperti lapangan tenis, waterpark, dan children playground, bisa dinikmati gratis seumur hidup oleh penghuni. Harga rumah memang sudah termasuk harga “tiket” untuk memasuki tempat-tempat bermain tersebut.

Terlepas dari fakta bahwa sebuah tayangan iklan memang wajar untuk memuja-muji diri sendiri, kita tetap tak bisa menyaksikannya tanpa bermimpi. Di tengah semua keterbatasan infrastruktur, kebersihan lingkungan, serta isu “alamiah” soal air PDAM ngadat, listrik PLN mota-mati, dan banjir rutin, bisa hidup di satu kawasan hunian yang serba perfect seperti The Royal memang menjadi impian yang bisa dibilang sangat utopis.

Semua serba nyaman, aman tenteram, semua gratis, ke mana-mena serba dekat, dan selling-point yang selalu sakti untuk diarahkan pada warga ibukota adalah, “udara pegunungan/pedesaan yang sejuk dan segar”.

Bagi masyarakat ibukota yang rentan stres karena tekanan kehidupan dan lingkungan, kawasan hunian seperti The Royal jelas akan menjadi solusi terbaik untuk bisa agak lepas dari semua tekanan itu. Terlebih bila tempat kerja pun kebetulan berada dalam lokasi berdekatan, yang berarti tak perlu menembus sesaknya jalan tiap hari dari Senin sampai Jumat dan diulang Senin-Jumat seterusnya hingga entah kapan…

Masalahnya, sebagaimana semua hal yang enak-enak lain, kenyamanan tersebut hanya bisa dipunyai oleh mereka-mereka yang berkemampuan lebih dalam hal finansial. Mau tak mau kita jadi ingat slogan sarkastis “orang miskin tak boleh sakit”.

Sebagian besar masyarakat Indonesia (yang menyaksikan tayangan ini) tentu tak termasuk dalam segelintir orang yang tak kaget saat mendengar—sebagaimana yang muncul dalam advertorial Agung Sedayu Group lain—ungkapan semacam “Hanya Rp 900 juta!” dan disahut oleh presenter dengan “Waah… murah sekali!” sambil tersenyum luar biasa manis!

Satu problem lagi yang kerap ditawarkan para pengembang lewat tayangan-tayangan advertorial ini adalah konsep eksklusivismenya bagi para penghuni. Dalam salah satu iklan apartemen mewah, misalnya, dipaparkan keistimewaan hunian tersebut di mana access card penghuni memungkinkan mereka untuk menaiki lift yang langsung menuju “pintu depan” rumah masing-masing.

Intinya, privasi dan keamanan sangat terjaga. Penghuni bisa fokus dengan kehidupan pribadi masing-masing. Mereka tak akan diusik oleh tetangga yang usil, karena para penghuni itu tak bisa masuk ke rumah lain kecuali apartemen mereka sendiri. Jadi tak akan ada juga kontak dengan penghuni apartemen sebelah. Kenal atau saling tahu wajah saja barangkali tidak.

Efeknya, warga ibukota yang individualistik pun jadi makin individualistik lagi. Petugas sensus penduduk dan beberapa sensus lain melapor, warga penghuni apartemen sangat sulit untuk diajak bekerja sama. Mereka telah menyediakan diri untuk berada dalam sangkar emas mereka, di mana di sangkar tersebut, ada atau tidaknya orang lain di sekitar tak terlalu berpengaruh signifikan, sepanjang mereka tetap memiliki akses menuju tempat kerja, tempat makan, dan tempat belanja!

Dan iklan-iklan properti semacam ini makin menumbuhsuburkan dan justru meng-endorse warga untuk kian individualistik, eksklusif, dan tertutup mengisolasi diri. Hampir bisa dipastikan, di kawasan hunian eksklusif tersebut tak akan ada organisasi lingkungan khas masyarakat Indonesia, yaitu RT dan RW. Pihak pengembang pun pasti tak akan berpikir sampai ke sana. Pokoknya unit demi unit rumah terjual, habis perkara.

Kita pun layak berwaspada. Setelah diajak bermimpi muluk-muluk untuk menempati rumah mewah ala istana di sinetron, berikutnya bisa saja eksklusivitas itu menjadi “kebenaran kontemporer” yang bisa saja dianut. Lalu mendadak kita merasa sah ketika tak lagi membutuhkan tetangga kanan-kiri, tak perlu Pak RT, dan mulai kerap absen dari kerja bakti Minggu pagi!

Walau begitu, di sisi lain, para pengembang juga tak jarang menunjukkan visi “tata kota” yang lebih advance dari berbagai pemkot di Indonesia. Khususnya dalam episode-episode iklan tentang kompleks perumahan yang berkonsep kota satelit baru, mereka menunjukkan bahwa mereka sanggup membuat sebuah “kota” tersendiri dengan fasilitas dan infrastruktur yang jauh lebih hebat daripada hasil “rancangan” aparat pemkot.

Salah satu kompleks hunian memiliki water treatment plant yang bisa menyaring kuman sehingga air leding bisa langsung diminum. Di sini tentu tak akan ada cerita air leding mampet tapi tagihan malah naik! Juga berbagai kabel (termasuk listrik dan telepon) yang ditanam di tanah sehingga pemandangan sekitar menjadi lebih nyaman dilihat.

Sedang untuk mencegah banjir, pengembang membuat polder penampung air yang didesain indah menjadi danau buatan, tak hanya berujud kotak kaku formal mirip polder Tawang di Semarang. Karena didesain indah, polder itu pun difungsikan juga menjadi tempat wisata, lengkap dengan wahana-wahana air, taman bunga dan hutan kota, serta aneka macam resto dan kafe terbuka di sepanjang tepiannya.

Maka jika hendak melakukan studi mengenai tata kota, walikota dan staf serta anggota DPRD kota seharusnya tak perlu pergi sampai Singapura atau Kopenhagen, melainkan cukup dengan sharing ide serta ber-brainstorming dengan para pengembang perumahan. Orang-orang seperti Eveline ini agaknya cukup sering main game simulasi tata kota SimCity dan mengambil banyak manfaat dari game keluaran EA itu… (Wiwien Wintarto)

Judul Program: The Royal – Advertorial Penayang: Metro TV Hari/Tanggal: Minggu, 7 Oktober 2012 Waktu: Pukul 8.30-9.00 WIB Durasi: 30 menit (6 menit iklan) Iklan: Agung Sedayu Group (The Royal)

Kredit Foto:

The Royal: http://www.onlineproperti.com/18077/jual-grand-cibubur-country/

SimCity 4: http://en.wikipedia.org/wiki/SimCity_4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: