Tenang di Tengah Kegaduhan

 

TELEVISI telah menjadi ruang yang gaduh. Teramat gaduh. Berbagai tayangan, dari musik sampai diskusi, seolah tak hendak menyisakan ruang untuk bersunyi-sunyi, berpikir, merenung, atau semadi. Bahkan pada bulan Puasa, bulan kontemplasi, nyaris seluruh saluran berebut menyajikan kegaduhan, terutama menjelang berbuka dan sahur. Tidak hanya tayangan yang (konon) komedi, program acara tausiah pun gedhombrangan dan penuh haha-hihi.

Kesan kuat yang kemudian muncul adalah “kesimpulan” bahwa menarik sama dengan atraktif, menarik sama dengan riuh, gaduh. Tayangan yang biasa-biasa saja, tidak menampilkan keributan, pasti jauh dari kata memikat. Itulah pula sebabnya, banyak tayangan berkategori show, termasuk bincang-bincang atau diskusi, mewajibkan kehadiran penonton di studio yang bertugas tepuk tangan, tertawa, atau sekadar sorak-sorak hoa-hoa. Kalaupun tanpa penonton, host dan co-host berikut narasumber “wajib” saling tumpuk dan timpuk kata. Berebut bicara!

Benarkah “kesimpulan” itu? Tidak. TVRI membuktikannya lewat program Soegeng Sarjadi Forum setiap Senin pukul 20.00 – 21.00 WIB. Tidak ada keriuhan, apalagi kegaduhan di sana namun tetap memikat. Episode “SBY Versus Koruptor” yang tayang Senin, 15 Oktober 2012, bisa menjadi contoh. Dengan narasumber Prof. Dr. Siti Zuhro (pengamat politik LIPI), Budiarto Shambazy (wartawan senior Kompas), dan Bambang Harymurti (direktur PT Tempo) diskusi mengalir tenang. Bahkan ketika tertawa pun, mereka tertawa dalam porsi yang terjaga. Tidak berlebihan.

Soegeng Sarjadi sebagai pemandu melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang fokus dan “menuntut” jalan keluar. Pertanyaan-pertanyaan itu pada awalnya umum, menyempit, mengerucut, lalu sampai pada “tuntutan” saran atau bahkan solusi atas masalah yang menjadi bahan diskusi. Suara berat, nada rendah, gerak kalimat demi kalimat yang boleh dibilang lambat –sengaja tak sengaja– memberikan kesempatan kepada narasumber untuk berpikir sebelum menyampaikan jawaban. Tidak asal jawab, asal beda, apalagi asal meledak-ledak.

Tak Siti Zuhro, tak Budiarto Shambazy, tak pula Bambang Harymurti sebagai narasumber “mau tidak mau” mengikuti “alur lambat” itu dengan memberikan jawaban-jawaban yang telah terolah dalam pikiran. Terstruktur, jelas, jernih. Jawaban-jawaban itu tetap tajam, menusuk, meski tak menggunakan kosakata yang menyudutkan atau penuh kecaman. Yang lebih elok, ketika salah seorang sedang memberikan jawaban atas pertanyaan pemandu, narasumber yang lain turut menyimak. Tidak (mudah) tergoda untuk menyela.

Setelah menyampaikan tentang sumber korupsi adalah partai politik, misalnya, Siti Zuhro kurang lebih menyatakan bahwa “karena parpol memble, kita harus menguatkan civil society, masyarakat, untuk memberantas korupsi atau mengawal pemberantasan korupsi… dan SBY sebaiknya memanfaatkan sisa kekuasaan sebagai presiden dengan husnulkhatimah, akhir yang baik”. Kata husnulkhatimah itu, sungguh, terdengar lunak di telinga namun sangatlah menusuk.

Kerja Kamera

Kalau diskusi yang mengalir tenang tanpa selingan tepuk tangan penonton, musik dan lagu, bahkan tanpa jeda iklan tersaji begitu saja, apa adanya, hanya tertayang gambar tampak depan empat orang duduk melingkari satu meja, pastilah melelahkan, minimal bagi mata. Selingan medium shot atau close up model cut to cut, potong-lompat dari wajah satu ke wajah yang lain, sebagaimana pada tayangan sejenis tetapi yang gaduh itu, belumlah cukup untuk menguatkan daya pikat bagi program Soegeng Sarjadi Forum yang tergolong talk show sunyi.

Nah, melalui gambar-gambar dalam tayangan berdurasi satu jam penuh itu kita bisa menyaksikan kerja kamera yang tidak hanya kreatif tetapi juga saksama. Tetap mengikuti “alur lambat” namun variatif dalam penentuan dan pengambilan “adegan”. Saat Soegeng berbicara, misalnya, kamera tak langsung menangkap wajahnya tetapi bergerak pelan dari tepi rak, deretan buku, hingga sampai di pipi, kemudian seluruh, ah, tidak… hanya sampai tiga perempat wajah pemandu.

Begitupun ketika narasumber menyampaikan pendapat atau menyimak pemandu dan narasumber lain yang sedang berbicara. Kamera menangkap wajah mereka, begitu dekat. Baik dari depan maupun dari samping. Tergambar jelas mata yang berbinar ketika melontarkan gagasan, pun ekspresi berpikir atau merenung ketika mendengarkan. Sesekali, dengan extreme close up, kamera menangkap gerak tangan atau bendera Merah Putih di atas meja atau lagi “sekadar” gelas, bolpoin, dan kertas. Tak pelak, menyaksikan diskusi dalam Soegeng Sarjadi Forum hampir sama dengan menonton adegan film saat para tokoh berunding memecahkan suatu masalah. Mengasyikkan!

Tayangan buruk mendapat cacian (meski tak selalu), tayangan bagus mendapat pujian tentu. Di Twitter@SSForum_TVRI kita bisa membaca, antara lain, Diaz daz@diazdas: rasanya udah belasan tahun kehilangan rasa bangga punya tvri. Malam ini, rasa itu muncul lagi. Thx @ssforum_tvri. Sangat inspiratif! (17 September 2012); Adyatmika Euuy @mikasipandaacak: shooting pake 5D mk2 color grading ala hipster, gile keren bgt! Acara diskusi yg enak dilihat (24 September 2012); Yulias eka putrie @immemine: baru nemu forum diskusi yang bermutu, @SSForum_TVRI, udah bosen nonton debat yang nggak keruan (1 Oktober 2012).

Ya, di tengah kegaduhan beragam program televisi, lebih khusus lagi tayangan dialog atau diskusi yang memamerkan kefasihan berdebat (tidak selalu sejalan dengan berpendapat), program Soegeng Sarjadi Forum bisa menjadi ruang yang tenang untuk berpikir, berkontemplasi, serta mungkin “menemukan” solusi. Dan TVRI sebagai lembaga penyiaran publik telah menyuguhkan salah satu karya kreatif terbaik. (Budi Maryono)

Program: Soegeng Sarjadi Forum Penayang: TVRI Hari Penayangan:  Tiap Senin Waktu: 20.00 – 21.00 Durasi: 60 menit (tanpa iklan) Pemandu: Soegeng Sarjadi Produksi: Soegeng Sarjadi Syndicate dan TVRI

One response

  1. like this

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: