Fluktuasi yang Tak Stabil

 

“Kesenjangan antara suami dan istri dapat mengakibatkan keretakan rumah tangga yang berdampak buruk pada anak-anak.”

Masalah keluarga. Begitulah simpulan singkat dari tayangan drama Anak-Anak Tanpa Cinta yang tayang di Indosiar tanggal 25 September 2012 pukul 10.00.

Tayangan ini mengisahkan tentang ketegangan dalam rumah tangga sepasang suami isteri, Irma dan Imam, yang disebabkan oleh kesenjangan di antara keduanya. Irma seorang wanita karier yang kaya dan sibuk, sedang Imam hanya pegawai TU di kampus. Dugaan perselingkuhan Irma dengan teman satu kampusnya dulu menjadi faktor pencetus Imam membawa dua anak mereka pergi dari rumah.

Pada kondisi ini, kedua anak mereka dihadapkan pada kesulitan-kesulitan baru di mana keduanya harus memihak salah satu orangtua (memilih ayah daripada ibu), kebiasaan-kebiasaan hidup dari kondisi mewah ke kondisi yang serba kurang (tidak punya televisi, rumah yang tidak nyaman), serta tanggapan dari lingkungan sekolah (diejek karena naik angkutan umum, dimarahi karena tidak bayar SPP).

Irma berusaha melakukan pendekatan tetapi dalam pikiran anak-anak tertanam bahwa ibu mereka jahat karena terlalu sibuk bekerja. Sampai pada suatu saat anak sulung mereka jatuh dari angkutan umum dan kakinya patah. Di saat bersamaan anak kedua sakit demam berdarah sehingga kedua anak tersebut dirawat di rumah sakit yang sama. Hal tersebut membuat Imam sadar dan akhirnya menyerahkan kedua anak mereka berada dalam pengasuhan Irma.

Namun, permasalahan tidak selesai sampai di situ. Si Sulung tak suka tinggal di rumah ibunya. Dia melarikan diri dari rumah. Dia tertabrak kendaraan dan meninggal.

Terlepas dari fenomena masyarakat zaman sekarang di mana orangtua semakin tidak peduli dengan kondisi psikologis anak-anak, tayangan ini sebetulnya berusaha memberikan gambaran pada penonton tentang dampak buruk ketegangan orangtua bagi anak-anak. Namun ada beberapa catatan yang perlu kita kritisi dalam tayangan berdurasi 1,5 jam ini.

Pertama, secara sinematografi drama ini kurang bagus. Hubungan antar adegan kurang sinkron (misal: sebuah adegan menampilkan seorang guru memberitahu Si Sulung agar membayar SPP yang terlambat, pada adegan lain Si Sulung bilang dia dimarahi gurunya karena telat membayar SPP), fluktuasi emosi yang tidak stabil antar adegan (misal: di satu adegan Irma marah-marah sampai histeris, kemudian menunjukkan emosi yang datar di adegan lain tanpa ada adegan solusi sebelumnya), serta pengambilan gambar yang kurang menarik.

Kedua, masalah stereotip masyarakat di mana pernikahan dengan kesenjangan antara suami isteri selalu menimbulkan masalah. Wanita karier selalu disalahkan karena menelantarkan anak-anak. Sosok ibu ideal selalu digambarkan sebagai wanita yang tinggal di rumah dan hanya mengurus anak-anak. Padahal tidak semua ibu bekerja menelantarkan anak mereka.

Ketiga, persoalan jam tayang. Tayangan ini diputar pukul 10.00 WIB. Bila memang sasaran dari tayangan ini adalah orangtua, maka tayangan ini tidak tepat sasaran karena pemilihan waktu yang kurang tepat. Sebagaimana kita tahu, pukul 10.00 WIB merupakan jam bekerja. Bisa dipastikan tayangan ini sebagian besar dinikmati pengasuh, pembantu rumah tangga, dan ibu-ibu.

Keempat, materi iklan. Iklan-iklan yang tayang selama kira-kira 6 menit waktu jeda, sebagian besar merupakan produk-produk keperluan rumah tangga sehari-hari. Kemunculan iklan-iklan ini membuat pemirsa secara tidak langsung digiring menuju gaya hidup konsumtif dan harus tampil sesuai standar iklan.
Kelima, gaya hidup. Pada tayangan drama Anak-Anak Tanpa Cinta digambarkan bagaimana kesenjangan antara kehidupan yang serba mewah dan bergelimang harta. Ada adegan di mana Irma mengunjungi anak-anaknya sambil membawa makanan berupa nugget yang dianggap sehat untuk anak-anaknya, seorang siswa yang mengejek si Bungsu lantaran ke sekolah naik angkutan umum dan berseru “Miskin”, dan masih banyak adegan lain yang seharusnya bisa disajikan dengan cara yang lebih smart.

Tanpa kita sadari ada penanaman nilai sosial tertentu dalam tayangan drama tersebut. Beberapa tahapannya sebagai berikut:

1. Sugesti, merupakan proses pemberian pandangan/pengaruh tertentu pada orang lain dengan cara-cara tertentu sehingga orang lain mengikuti tanpa berpikir panjang. Pada tayangan ini banyak sekali adegan-adegan yang memuat tentang stereotip-stereotip tentang perkawinan dan gaya hidup.

2. Imitasi, pembentukan nilai dengan meniru cara yang dilakukan orang lain. Drama Anak-Anak Tanpa Cinta memuat materi-materi seputar permasalahan perkawinan dan tindakan-tindakan yang diambil tidak dilandasi cara berpikir yang tepat sehingga dengan mudah penonton dapat meniru.

3. Identifikasi, melakukan tidakan yang sama seperti yang dilakukan model.

4. Internalisasi, nilai-nilai yang diyakini menjadi sebuah kebenaran dan diwujudkan dalam sikap dan perilaku.

Masalah keluarga memang paling sering diperbincangkan, tapi sadar atau tidak, tayangan-tayangan serupa bisa bisa dengan mudah mengubah nilai-nilai yang kita anut. Mengutip halaman REPUBLIKA.CO.ID (24/1/2012) bahwa Badan Urusan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung (MA) mencatat selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan angka perceraian di Indonesia hingga 70%. Ingatkah kita bahwa pada rentang waktu itu televisi tanpa tabu menayangkan bermacam tayangan tentang perceraian mulai dari acara gosip sampai sinetron. Apakah Anda sudah siap diracuni oleh tayangan televisi? (Catastrova Prima)

Judul Program : Anak-Anak Tanpa Cinta (Drama) Stasiun Penayang : Indosiar Hari Penayangan : Selasa, 25 September 2012 Waktu : Pukul 10.00 WIB Durasi : 60 menit (30 menit iklan) Materi Iklan : Lasegar, Promina, Lifebuoy, Pond’s, Citra, Autan, Frisian Flag, Dettol, TOP Kopi, Pepsodent, Clear, FresCo, VFresh, Wall’s Dreamy Creamy, Lux, Sarimi, TRESemme, Kartu AS, Pentene, Viva Clean & Mask, Fair & Lovely, Rinso, Mi Sedap, Sunsilk, Wall’s Magnum, Formula Sparkling White, Clean & Clear, Ciptadent, Cornetto, Baygon Max, Sariwangi, Rexona, Indomie, Molto, Close-Up, Dove, Listerine, Sari Roti, Pure It, Domestos, Teh Rio, Mama Lemon, Force Magic Micron, Zwitsal, Hit, KB Andalan, Fruitamin, Axis, Emeron Lovely.

Kredit Foto:
http://www.indosiar.com/sinopsis/anak-anak-tanpa-cinta_65820.html

One response

  1. Ngeriii !!! Hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: