MU dan Filsafat Machiavelli


Kemenangan, barangkali, selalu berkait dengan keberuntungan. Setidaknya itulah yang kita saksikan dalam pertandingan antara Chelsea dan Manchester United, Minggu malam (28/10) di MNC TV, pukul 23.00. Sempat memimpin 2-0, lewat jasa Van Persie, Manchester United (MU) lalu seperti gugup, dan akibatnya, Chelsea mampu menyamakan kedudukan di awal babak kedua. Permainan pun menjadi terbuka, saling serang, meski MU tampak lebih kedodoran saat bertahan.

Tapi, Dewi Fortuna justru datang kepada ”Setan Merah”, dan ”memaksa” wasit Mark Clattenburg memberikan 3 keuntungan.

Kartu merah untuk Branislav Ivanovic di menit ke-63, setelah dia menjatuhkan Ashley Young yang tengah berlari bebas menuju gawang Chelsea, dan berpeluang menciptakan gol, adalah awal segalanya. Apalagi, hanya berselang empat menit, keuntungan kedua untuk MU datang, Fernando Torres juga diganjar kartu merah. Clattenburg menilai Torres sengaja menjatuhkan diri ketika ”bersentuhan” kaki dengan Evans.

Bermain dengan 9 punggawa, Chelsea seperti tengah menunggu ”hukuman”. Dan di menit ke-75, Javier “Chicharito” Hernandez, yang masuk menggantikan Tom Cleverley, mencetak gol. Dari tayangan ulang, Chicharito jelas offside. Tapi mau bagaimana lagi, wasit tak melihat hakin garis mengangkat bendera. Gol itu sah, dan  menjadi keberuntungan ketiga ”Setan Merah”.

”Keputusan itu sangat salah dan wasit telah memengaruhi hasil pertandingan. Mereka jelas memutuskan pertandingan itu menjadi milik lawan. Kartu merah di babak kedua seharusnya tidak terjadi, dan gol ketiga itu jelas offside,” protes Di Matteo, pelatih ”The Blues”.

Di Mateo jelas mengatakan bahwa keputusan wasit amat menguntungkan pihak lawan. Dan seperti gayung bersambut, semua penggemar Chelsea pun menggaungkan hal yang sama. Di stadion, suporter Chelsea mengancam dan mengecam Clattenburg dan asistennya. Teriakan, ”Curang! Curang, curang!!” terus bergema ketika wasit meniup peluit, dan polisi terpaksa mengawal ketat sang wasit dan kedua asistennya, Michael McDonough dan Simon Long saat memasuki ruang ganti.

Di berbagai situs berita yang memuat pertandingan itu, para penggemar dua tim beradu argumen. Tapi jelas, tuduhan bahwa wasit memihat, dan MU hanya memang karena beruntung, menjadi ”agenda” bersama yang dilontarkan para pendukung Chelsea. Penggemar MU? Mereka kebanyakan hanya menjawab singkat, ”Glory! glory, glory Manchester United!” Hahaha….

Permainan Usaha

Benarkah MU hanya beruntung? Sungguhkah Hernandez telah offside?

”Mungkin saja. Sudah kebiasaanku untuk selalu menengok ke hakim garis. Ini adalah partai berat tapi kami beruntung bisa mencetak gol terakhir tersebut,” aku Chicharito seperti dikutip BBC.

”Hari ini semuanya menguntungkan United, dan itu membuat kami sangat tidak bahagia,” keluh Di Matteo.

”Mereka mengatakan gol kemenangan itu lebih dulu offside. Jadi, saya rasa kami sedikit beruntung bisa mendapatkannya,” ucap Ferguson seperti dilansir Skysport.

”MUnyuk diam aja pun pasti menang. Wasit kan sudah dibeli FerGayson, jadi pasti selalu diuntungin!” komentar penggemar ”The Blues” sebagaimana tercatat di detik. Dan komentar semacam itu amat banyak, bahkan menjadi komentar yang umum dalam tiap kemenangan MU melawan klub mana pun. Intinya, MU selalu menang karena beruntung, hadiah wasit, bukan dari sebuah proses bermain yang wajar, sportif, dan teroganisasi.

Dalam kasus ini, dan mungkin dalam banyak hal lain, sebagian kita acap menempatkan keberuntungan sebagai dan identik dengan hadiah atau sesuatu yang datang tiba-tiba, tanpa pengusahaan. Keberuntungan adalah perkara nasib, persembahan Dewi Fortuna, dan seakan tak ada urusannya dengan kerja. Keberuntungan tanpa sadar kita ibaratkan melempar kail tanpa umpan ke lautan dan pasti mendapat ikan. :p

Tapi bagi Hernandez, keberuntungan itu hasil kerja, buah dari usaha. ”…kami beruntung bisa mencetak gol terakhir tersebut.”

”Bisa mencetak gol,” katanya, dan ”mencetak” adalah sebuah kerja, usaha, ikhtiar. Dengan kata ”bisa” di bagian depan, kita jadi tahu, datangnya gol ketiga itu adalah sebuah proses,  dari ”permainan” yang tanpa henti. Keberuntungan bagi Hernandes dan juga pemain MU lainnya, dengan demikian, bukanlah persembahan nasib melainkan permainan usaha. Keberuntungan adalah momen yang hadir karena diadakan, dikreasikan, dan dalam sebuah tim, harus berwujud pergulatan bersama. Dua ”hadiah” kartu merah dari wasit tercipta karena proses kerja sama antara Van Persie dan Ashley Young yang coba digagalkan Ivanovic, dan kekokohan Evans yang ingin ”diakali” Torres. Dan inilah yang secara implisit diajarkan Tao, ”Ketekunan akan menciptakan momen-momen keberuntungan.”

Lebih dari 600 tahun lalu, dalam buku The Prince, Nicolo Machiavelli telah mengemukakan juga soal momen keberuntungan ini. Filsuf Italia itu mengatakan bahwa faktor terpenting untuk mencapai kesuksesan adalah keutamaan yang menciptakan keberuntungan. Lalu, apa itu keutamaan? Keutamaan adalah ketrampilan yang mendalam tentang suatu bidang yang didukung aspek intelektual maupun emosional. Jadi, bagi Machiavelli pun, keberuntungan bersinonim dengan pengusahaan.

Sebagai hasil pengusahaan atau penciptaan, keberuntungan tidak berdiri sendiri. Ada prasyarat atau pondasi yang menopangnya. Roger Hamilton dalam buku Your Life Your Legacy menyatakan keberuntungan hanya terjadi jika ada LUCK, location, understading, conection, dan knowledge. Jadi, Hernandez bisa menciptakan keberuntungan karena dia ada di tempat yang tepat, terkoneksi dengan Rafael yang mengumpan, dia memahami tugasnya sebagai penjebol gawang, dan memiliki skill serta refleksivitas yang tinggi. LUCK inilah yang dalam defenisi Nicolo Machiavelli dinamakan keutamaan.

Tapi harus juga disadari, sebagai sebuah proses pengusahaan, keberuntungan adalah momen, dan dengan demikian, bukanlah hal pasti. Atau, mengutip pendapat filsuf Richard Rorty, keberuntungan adalah sebuah situasi kontingensi, ketakpastian. Dan karena statusnya yang ”tak pasti”, kita hanya bisa terus memegang LUCK atau keutamaan. Mungkin  seperti Herdandez yang tak lelah berlari, terus bergerak, mencari dan mengejar bola, karena dia percaya, Dewi Fortuna bersamanya di dalam kerja, di dalam usaha….  (Aulia A Muhammad)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: