Jokowi, “Hiburan” Tersendiri

ADAKAH hubungan antara Gubernur DKI Joko Widodo alias Jokowi yang mulai berusaha mendandani Jakarta dengan Sophia Latjuba yang berganti nama menjadi Sophia Mueller, Nicky Astria yang kembali tampil di dunia tarik suara lewat hit “Carry On”, dan Ussy Sulistyawati yang lebih awal (daripada prediksi dokter) melahirkan “anak pertama”-nya bersama Andhika Pratama? Sebenarnya, tidak ada. Namun bisa ada ketika mereka masuk dalam satu paket kemasan infotainment Intens (RCTI, Selasa 30 Oktober 2012, pukul 11.00 – 12.00), yakni sama-sama mengubah, berubah, atau mengawali (lagi) sesuatu.

Meski menyukai musik rock, Jokowi bukanlah rocker, bukan pula bintang film atau sinetron. Lalu bagaimana dia bisa “layak” masuk dalam tayangan infotainment? Tidak susah. Dengan narasi bahwa Jokowi tak ubahnya selebritas yang ke dan di mana-mana selalu menjadi pusat perhatian masyarakat, cukup sudah. Apalagi kemudian dibumbui dengan “apa pendapat para artis tentang sepak-terjang Jokowi”, wah, sangatlah absah.

“Segmen Jokowi” memakan waktu terbanyak, sekitar 25 menit. Sophia dan Nicky dalam satu segmen sekitar 10 menit, sedangkan Ussy yang menjadi segmen penutup sekitar 5 menit. Selebihnya, jeda-jeda iklan. Seolah hendak menunjukkan bahwa nama tayangan sama dengan isi, Intens memaparkan “berbagai sisi” mantan walikota Solo itu. Dari kegiatan sehari-hari sebagai gubernur DKI sampai kebiasaan dan kesukaan, berikut komentar istri dan anak, pun artis dan warga Jakarta terhadap apa yang dia lakukan sekarang: selalu meninggalkan kantor, turun langsung mengecek persoalan.

Ada info barukah? Tidak. Gambar-gambar Jokowi turun ke lapangan tentu saja terambil dari tayangan berita. Kebiasaan dan kesukaannya, walau saat dan gambar tak sama, telah lama terekspose. Komentar warga dan artis? Sama saja, yakni memberikan puji-sanjung sambil menyampaikan harapan melambung. Bahkan komentar Julia Perez bukan hanya tak baru, melainkan hanya tayangan ulang saat dia bercerita tentang ibunya yang “heboh” menjelang pemilihan gubernur beberapa waktu lalu. So? Intens, begitupun infotainment lain jika menayangkan sosok yang sama, semacam menetapkan bahwa (apa saja kegiatan dan ucapan) Jokowi sudah masuk dalam wilayah hiburan.

Indonesia Masih Punya
Hiburan adalah hasil atau sesuatu yang menghibur. Begitu pulakah Jokowi bagi pemirsa, warga Jakarta atau lebih luas lagi rakyat Indonesia? Gambaran dalam acara Risalah (Metro TV, 9 Oktober 2012, pukul 21.30 – 22.30) bisa menjadi contoh. Melalui “adegan” jurnalis masuk ke permukiman padat lalu meminta pendapat warga di sana tentang gubernur baru DKI tampak bahwa masyarakat, terutama kalangan bawah yang memang mayoritas, sangat merindui pemimpin yang mau mendengar dan melayani rakyat.

Walau tahu ada jarak antara janji dan realisasi, mereka melihat (melalui media), Jokowi yang berhasil memimpin Solo adalah pemimpin yang yang tak hanya pandai membuat rencana tetapi juga siap dan sigap bertindak nyata karena sederhana, pekerja keras, tidak enggan bertemu atau malah memilih bertamu untuk menyerap aspirasi rakyat daripada hanya duduk manis di kantor menunggu laporan yang bisa jadi jauh dari kenyataan.

Begitu Gubernur DKI Joko Widodo dan wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, benar-benar (terberitakan) langsung bekerja sehari setelah pelantikan sesuai dengan janji saat kampanye, kian melambunglah harapan, meningkatlah kepercayaan.  Lebih-lebih kemudian media, dalam hal ini televisi, selalu menguntit ke mana pun Jokowi pergi: ke jalan-jalan, pasar, rumah susun, kantor kelurahan atau kecamatan, dan bantaran kali. Metro TV bahkan merangkumnya dalam segmen khusus “Gebrakan Jokowi” di antara tayangan berita. Begitupun Global TV yang menghadirkan segmen “Kawal Jakarta”.

Tak pelak, di antara berita menjenuhkan tentang pejabat yang terlibat kasus korupsi (namun tetap senyam-senyum di depan kamera), ricuh demonstrasi, ribut-ribut antarpolitikus, bentrok antarwarga, tawuran antarpelajar atau mahasiswa, pemimpin yang tidak menunjukkan kualitas sebagai pemimpin, berita tentang Jokowi menjadi “hiburan” tersendiri. Ia hadir tak semata sebagai berita tetapi pemberi harapan, pembangkit semangat, peneguh keyakinan bahwa pemimpin yang bekerja, Indonesia masih punya.
Dalam program Suara Anda (Metro TV, 30 Oktober 2012), beberapa penelepon (bukan warga DKI) yang memilih berita “Jokowi Memimpikan Orchard Road” selalu mengawali dengan ucapan selamat. Selamat untuk Jokowi yang terpilih sebagai gubernur dan selamat untuk warga Jakarta yang telah mendapatkan pemimpin ideal. Seorang di antara mereka, warga Jepara, menyampaikan pula rasa “iri”-nya dan berharap masyarakat Jepara bisa menemukan pemimpin yang sama.

Nah, karena jalan masih panjang dan setiap pemimpin pasti “tersandung” batu ujian, media –sekali lagi dalam hal ini televisi– perlu “menahan diri” agar tak selalu dan melulu memberitakan apa yang sedang dan akan dilakukan oleh Jokowi. Biarkan gubernur baru itu bekerja dan beritakan saat ada atau kelihatan hasilnya. Kritik jika buruk, puji jika baik. Dengan begitu, media tidak menjadi pemandu sorak belaka. (Budi Maryono)

One response

  1. Betul betul betul
    media tergolong ‘penumpang gelap’ (minjem istilah bu Mega) saat sorotan publik utk Jokowi, media ikutan cari untung. Untuk fungsi pengawasan ? boleh aja, tp gak lebay jg kalle.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: