Tak Perlu Dijelaskan

Problem utama pada genre film horor umumnya sama dengan yang ada pada film-film action alias laga, yaitu semua unsurnya menjadi terlalu gampang diprediksi. Predictable, kalau kata orang Inggris. Jika di film laga formula utama adalah tentang tokoh hero yang menderita gara-gara ulah tokoh jahat dan kemudian (pasti) menang pada akhir cerita, maka dalam film-film horor kita akan ketemu sosok hantu yang sama dan dengan cara yang selalu sama pula.

Apa yang belum dihadirkan di film horor? Zombie, drakula, arwah penasaran, vampir? Semua sudah. Demikian pula stok hantu lokal terutama pocong dan kuntilanak. Jadwal mereka sangat padat di dunia sinema kita. Dalam FTV Misteri Arwah Kali Angke yang hadir dalam programa Bioskop Indonesia di Trans TV, Selasa 27 November 2012 mulai pukul 12.00 WIB lalu, sang hantu hadir juga dengan cara yang sudah amat lazim: muncul di cermin, bergeser megambang misterius, atau hanya sekadar menampakkan diri, semua dengan mimik muka aneh khas hantu lengkap dengan efek cahaya dari bawah yang tepat mengenai dagu!

Hantu kita dalam kesempatan ini adalah arwah Alin, seorang gadis Tionghoa yang tewas dalam insiden pembantaian Kali Angke di Batavia pada tahun 1740. Ia memendam dendam abadi gafa-gara tragedi itu, dan tetap tertinggal di alam dunia dalam sebentuk kalung yang diwariskan turun-temurun di keluarga besarnya. 269 tahun kemudian, yaitu 2009, kalung itu tiba gilirannya dipakai oleh Melanie (Mayang Naomi), salah satu anak keturunan almarhumah Alin.

Di SMA-nya, Melanie kerap di-bully oleh Enggar (Marcel Liem) dan dua kawannya. Tak jelas mengapa Melanie harus di-bully selain hanya karena matanya sipit. Apakah karena Enggar cs rasialis? Atau apakah hanya karena mereka tak punya cukup kegiatan untuk menyibukkan diri? Nevermind. Yang jelas, entah bagaimana caranya, Melanie hingga sejauh itu tetap tak menyadari dirinya menjadi korban bullying, dan justru menaruh hati pada Enggar.

Ia mengiyakan ajakan Enggar untuk kencan makan malan romantis di sebuah kafe, hanya untuk dikerjai dan dabadikan oleh Reno dan Edgar, kedua kroni Enggar itu. Lari dalam keadaan malu dan terpukul, ia kemudian diculik oleh mereka berdua dan dicampakkan di satu tempat yang jauh dari permukiman. Sejak insiden itu, perilaku Melanie berubah. Ia seperti orang linglung, dan kerap menyerang Enggar. Bahkan satu kali, ketika pelajaran di kelas menyebut-nyebut nama Batavia, ia dengan buas mencekik Bu Guru!

Mayang Naomi

Belakangan diketahui, arwah Alin mengambil alih diri Melanie, untuk melindungi keturunannya yang kerap di-bully itu. Paranormal yang disewa mama Melanie mengatakan, Melanie dalam bahaya, dan hanya bisa diselamatkan oleh cowok yang punya cinta sejati padanya. Tugas itu diemban oleh Gito, yang memang sudah lama memendam cinta pada Melanie. Ia harus masuk ke alam gaib untuk mencari arwah Melanie dan “membawanya ke cahaya”.

Sebagaimana umumnya film layar lebar atau FTV kita yang bergenre horor, Misteri Arwah Kali Angke juga terjebak dalam hal logika. Kita tahu arwah Alin penasaran karena memendam dendam. Pada siapa? Tentu pada para serdadu Kumpeni yang membantainya. Tapi mengapa ia muncul lagi pada abad ke-21 hanya untuk melawan para ABG SMA yang gemar bullying? Dan arwahnya tenang bukan karena dendamnya telah terbalaskan, melainkan hanya karena Gito berhasil membebaskan Melanie dari cengkeramannya di alam baka.

Apa yang terjadi pada arwah Alin selanjutnya? Tak dijelaskan. Mungkin memang tak perlu. Atau tak mampu. Seperti halnya kemampuan untuk menamai tokoh-tokoh cukup dengan nama yang paling gampang diingat dan ditemukan. Untuk tokoh-tokoh keturunan Tionghoa, nama mereka cukup Alin, Ahong, dan berikutnya pastilah Ahok atau Afuk. Dan entah telah berapa ratus kali kita menyaksikan cerita drama yang mengandung tokoh bernama Bram.

Selain itu, karena mengambil “rute” yang relatif sama dengan puluhan atau mungkin bahkan ratusan judul film horor lain, segala hal berbau mistis dalam FTV ini menjadi tak istimewa karena sudah tertebak duluan. Kita tahu dengan cara apa dan dari arah mana dan dalam ekspresi apa arwah Alin akan melakukan penampakan. Ujung-ujungnya hanyalah “special effect” perhantuan yang paling mudah dilakonkan, yaitu adegan kesurupan. Dan arwah penasaran “hanya” mampu mengganggu manusia dengan menabrakkan mobil ke truk atau mencekik? Kapasitas dan kapabilitas hantu satu ini jelas amat layak dipertanyakan. Bagaimana dulu sistem fit & proper test yang dijalaninya sebelum layak menyandang predikat sebagai hantu…?

Dan mengambil tema horor sebetulnya sangat berisiko, karena penulis harus menyuplai tokoh-tokoh hantunya dengan latar belakang yang tak hanya logis namun juga bisa sangat kompleks, seperti halnya dalam The Ring, The Grudge, atau The Exorcist, misalnya. Pilihan lain, menyuguhkan format yang benar-benar orisinal seperti dalam empat judul seri Paranormal Activity atau The Cabin in the Woods-nya Joss Whedon yang menyegarkan itu.

Dalam kasus cerita-cerita horor Tanah Air, yang selalu terjadi adalah lemahnya penjelasan dan latar belakang itu. Maka kerap kita hanya disuguhi sosok-sosok hantu yang sibuk memunculkan diri sekadar cukup untuk memancing jejeritan dari kaum ABG cewek penontonnya. Muncul di jendela, mengambang di sudut kamar, atau menghantui lewat mimpi, lalu sudah. Mirip Alin, yang tak jelas mengapa ia muncul begitu kalung wasiat itu dipakai Melanie.

Mengapa ia tak muncul sejak dulu, pada abad ke-19 dan 20 pada masa mama dan oma dan mama dari omanya? Mengapa arwah Alin tak mencoba membalas dendam pada anak keturunan keluarga Kumpeni yang membantainya, dan lebih suka melawan pelaku bullying di sekolah? Mengapa ia menyandera roh Melanie di alam gaib sehingga Melanie harus “dibawa menuju cahaya” oleh cinta sejatinya? Dan mengapa pada adegan penutup saat Melanie dan Gito jadian di bawah jembatan, tahu-tahu Enggar ada di sekitar situ juga? Apakah mereka semua memang janjian sebelumnya?

Dan mengapa pula Melanie dan Gito ketemuan di bawah jembatan? Bukankah lebih nyaman jika beremu di rumah, di kafe, atau…? Oh, sudahlah. Tak semuanya perlu dijelaskan di layar kaca kita… (Wiwien Wintarto)

 

Nama Program: Misteri Arwah Kali Angke (Bioskop Indonesia)

Stasiun TV: Trans TV

Hari & Tanggal: Selasa, 27 November 2012

Waktu: Pukul 12.00-14.00 WIB

Durasi: 120 menit (40 menit iklan)

Sutradara: Lakonde

Penulis Skenario: Indri Widya

Pengarah Produksi: Wishnutama

Pemain: Mayang Naomi, Marcel Liem, Donny Arifin, Roy Saputra

Studio: Transinema Pictures

Iklan: L’Oreal, Electrolux Blender, Vresh, HiLo, Pantene, Mayumi, Biore Body Wash, Ajinomoto, Minute Maid, Bank Danamon, Bodrex Extra, Masako, Medicare, Appeton, Olay, Campina, kecap ABC, Sukro Dua Kelinci, Clear, Sarimi 2, Clean & Clear, Qtela, Panadol, Air Asia, Standard Chartered.

Kredit Foto:

http://www.veengle.com/s/bioskop%20indonesia.html
http://kaskus.co.id

2 responses

  1. Aku bikin novel misteri lho mas wien.. Mudah2an sih g sparah pelem2 itu klo dikritik mase, hehehe..

    1. wah, oke tuh. mo terbit kapan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: