Tanpa Adegan Membatin

Kerapian. Itu akan menjadi kata kunci untuk kesuksesan dalam bidang apapun. Tak terkecuali dalam dunia sinema televisi atau yang dalam kamus kita orang Indonesia lebih dikenal dengan istilah sinetron. Jika kita berkesempatan untuk menyimak film atau serial TV buatan mancanegara, maka akan jarang kita melihat sesuatu yang menimbulkan kesan dibuat secara tergesa hanya sekadar yang penting selesai sebelum tenggat.

Dalam serial populer CSI: Miami buatan Amerika Serikat, kerapian itu sangat terlihat menonjol. Semua diperhitungkan dengan cermat dan mengikuti satu pola tertentu yang “diamalkan” dengan disiplin tinggi tanpa kehilangan unsur kreativitas dan inovasinya. Salah satunya dalam hal kecintaan pada detail.

Episode berjudul G.O. dari musim kesembilan CSI: Miami yang tayang sindikasi (ditayangkan serempak di berbagai kanal TV lain setelah periode penayangan perdana di stasiun TV orisinalnya) di AXN hari Kamis 29 November 2012 lalu mulai pukul 7.35 WIB memperlihatkan kerapian dan kedisiplinan ini.

Kasus yang ditangani tim forensik kepolisian Miami Dade kali ini berawal dari insiden penikaman di sebuah bar yang diduga dilakukan seorang akuntan bernama Neil Harris. Anehnya, saat polisi datang ke TKP, mayat korban dan Neil menghilang. Neil kemudian ditemukan bermalam di apartemen Olivia, pramusaji bar tempat penikaman terjadi. Sayang ketika hendak ditahan, keduanya melarikan diri secara ajaib lewat lift.

Letnan Horatio “H” Caine (David Caruso) dan anak-anak buahnya makin pusing manakala mereka menemukan jenazah korban yang hilang ditemukan di bagasi mobil Neil. Belakangan diketahui, yang mereka temukan bukanlah jenazah korban pembunuhan itu, melainkan mayat eksperimen medis milik sebuah lembaga bernama Silas BioTech.

Yang lebih ganji, dua kali polisi mendatangi kantor lembaga itu pada hari yang sama, mereka menjumpai keadaan yang bertolak belakang. Pada kunjungan pertama, penyidik forensik Olivia Boa Vista (Eva LaRue) bertemu resepsionis Silas BioTech. Pada kunjungan berikutnya bersama Letnan Crane, ia menjumpai tempat itu kosong melompong mirip gudang yang sudah lama tak terpakai!

Urusan jadi kian pelik ketika Olivia yang diketahui bernama asli Lisa ditemukan terbunuh di sebuah hotel saat bersama Neil. Pelacakan lanjutan kemudian mengungkap bahwa semua yang terjadi pada Neil ternyata tak lebih dari rekayasa, alias practical joke kejam mirip dalam acara Jebakan Betmen di SCTV. Orang yang bertanggung jawab atas semua rekayasa itu adalah Dean, kakak Neil.

Semua elemen dalam tayangan berdurasi 42 menit ini amat rapi. Dimulai dari adegannya, yang masing-masing menghabiskan waktu tak sampai 30 detik. Itu membuat cerita yang rumit, kompleks, dan padat bisa dituturkan dengan komplet. Selain itu, pemirsa mendapat kesan persis seperti yang dimaui para sineasnya tentang ritme kerja kepolisian yang serba cepat dan bergegas.

Kerapian lain berada dalam detailnya, sejak dari perincian prosedur kerja polisi Miami, penggambaran berbagai aspek tugas masing-masing penyidik, hingga penyebutan bagian tulang patah pada leher yang menewaskan Olivia dan berapa derajat Celsius penurunan suhu tubuh seseorang setelah meninggal tiap jamnya. Mungkin ini semua hanya sekadar bunga rampai “tak penting” dari sebuah karya fiksi, namun menambah wawasan pemirsa pastinya tak akan menjadi sesuatu yang sepenuhnya sia-sia.

Bahkan bahasa tubuh dan nada suara David Caruso pun masuk dalam pola kerapian itu, yang menjadi salah satu ciri khas kesuksesan CSI: Miami selama ini hingga tamat di musimnya yang ke-10. Intinya adalah, semua diperhitungkan dengan cermat, entah berapa kali satu adegan di-retake hingga sempurna, sehingga tak dibuat dengan semangat “syuting Selasa, tayang Kamis” sebagaimana kelaziman sinetron stripping kejar tayang kita saat ini!

CSI: Miami sendiri adalah bagian dari “franchise” CSI: Crime Scene Investigations yang mulai tayang tahun 2000 dan meroketkan nama pemeran utamanya, Gil Grissom. Popularitas yang luar biasa membuat pihak CBS kemudian melebarkannya ke dalam dua sempalan (spinoff), yaitu CSI: Miami dan CSI: New York yang dibintangi Gary Sinise.

Kecintaan pada detail membuat serial-serial ini meningkatkan apresiasi publik Amerika pada tim lab forensik kepolisian yang selama ini kalah pamor dari tim reserse kriminal dalam penegakan hukum. Baru setelah CSI tayang, masyarakat akhirnya tahu sejauh mana peranan tim olah TKP dalam pengungkapan kasus-kasus kriminalitas, dan tak seluruhnya semata peranan reserse (detektif) lewat berbagai aksi kejar-kejaran, kontak senjata, serta adu jotos yang heroik.

Bagaimana dengan di sini? Banyak bahan tentu saja, tapi karena pihak sineas dan stasiun televisi swasta penayang sinetron seperti RCTI, SCTV, MNCTV, atau Indosiar tak mau kerja susah dan hanya mau gampangnya saja dalam rangka meraup rating (dan rupiah), yang selalu tampil adalah yang termudah ditemukan: cinta, perselingkuhan, patah hati, yang dipungkasi dengan tabrakan dan amnesia!

Dan kita akan jumpai sebuah ironi yang masif dari perbandingan ini. Adegan-adegan pembunuhan dalam serial-serial CSI dihadirkan secara lengkap dan vulgar. Anehnya, kita tak merasa tengah “diajar” tentang caranya berkekerasan. Lain dari saat kita menyaksikan para artis sinetron kita berakting marah, mendelik, menyeringai saat mengincar korban, atau mengucapkan dialog berisi kata-kata kasar.

Dan oh, ya, tak ada adegan monolog dan membatin dari para tokoh CSI: Miami dalam episode ini (dan juga dalam keseluruhan episodenya yang mencapai angka 232) guna mengungkap semua informasi dan fakta yang serba rumit bin kompleks itu. Maka setelah menontonnya, sinetron-sinetron kita tak ubahnya jadi mirip benda artefak kuno peninggalan zaman paleolitikum dari masa puluhan ribu tahun lalu… (Wiwien Wintarto)

 

Nama Program: CSI: Miami (season 9, episode “G.O.”)

Stasiun TV: AXN (Indovision)

Hari & Tanggal: Kamis, 29 November 2012

Waktu: Pukul 7.35-8.25 WIB

Durasi: 50 menit (8 menit iklan)

Sutradara: Brett Mahoney

Penulis Skenario: Brett Mahoney

Produser: Brett Mahoney, Marco Black, Sam Hill

Pemain: David Caruso, Emily Procter, Jonathan Togo

Iklan: Men’s Health Marathon, Brand’s, Malkist Abon, Frisian Flag, L’Oreal, ANZ, Rexona Men, Colgate Plax Fresh Tea, DestinAsia

Kredit Foto:

http://www.digitalspy.co.uk/ustv

2 responses

  1. Huehehe . Tentu saja ajar permasalahan kualitas tontonan tv d indo karna kejae tayang. Mungkin prlu dibikinin pp ttng alur pmbuatan sinetron yg brkualitas😀

    1. benar. semacam prosedur kerja. ini tugas pemerintah.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: