Mak Nyuss & Minyak Angin

bondan-rasikafm1

“Mak nyuss…!”

Sejak diperkenalkan kali pertama tahun 2005, frase ini menjadi sesuatu yang tak terpisahkan dari acara makan-makan. Kapanpun kita terlibat dalam suatu aktivitas kuliner bersama sanak kerabat dan handai taulan, ungkapan itu pasti akan muncul secara otomatis untuk menggambarkan kelezatan hidangan yang tengah disantap.

Program dokumenter Wisata Kuliner di Trans TV yang dipandu Bondan Winarno memang menjadi tonggak penting acara kuliner televisi. Sebelum era Wisata Kuliner, tak satupun kanal TV yang menganggap penting tayangan makan-makan. Baru kemudian, semua berbondong-bondong menyajikan acara serupa: orang berkelana dari satu warung ke warung lain mencicipi aneka masakan dan bingung menciptakan ungkapan apa yang bisa jadi catchphrase sebagaimana “mak nyuss”-nya Bondan itu.

Dan kini, setelah tujuh tahun mengudara, Wisata Kuliner masih tetap beratmosfer sama. Bedanya, kini Bondan hanya menjumpai pemirsa sepekan sekali pada hari Sabtu. Dulu ia muncul tiap hari, Senin-Jumat, tiap pukul 14.00 WIB. Satu beda lagi, ia selalu ditemani seorang selebritas cantik sebagai pemikat.

Dalam episode yang ditayangkan tanggal 29 Desember 2012 lalu, Bondan dengan ditemani model Nadya Mulya bertualang ke Yogyakarta. Mereka menyantap nasi blawong di Gadri Resto milik GPBH Joyokusumo, mencicipi snack tradisional di Jadah Manten Bu Ayu dan Pasar Legi Kotagede, bertemu Soto Kadipiro yang sudah beroperasi sejak tahun 1921, dan antre di Gudeg Pawon Jl. Jenturan untuk merasakan sensasi langka bersantap di pawon alias dapur.

Keunggulan utama Wisata Kuliner yang membuatnya fenomenal adalah ulasan mendalam Bondan tentang makanan dan minuman yang disantapnya. Ia tidak hanya mengatakan “uenak, sedap, lezat!” dan sebangsanya plus mimik muka merem-melek, melainkan bisa sedikit banyak menggambarkan rasa dan tekstur santapan tersebut. Ia bisa pula menghadirkan analisis berbau kultural dan bahkan arkeologis mengenai asal-usul sejarah satu jenis makanan beserta fungsinya dalam peradaban masyarakat bersangkutan.

Dengan cara itu, makanan dan minuman tidak hanya sekadar produk untuk dikonsumsi dan dinikmati, melainkan sesuatu yang memiliki dimensi kedalaman tertentu. Kita bisa mengerti mengapa makanan-makanan di satu daerah memiliki ciri khas yang kadang benar-benar “just not working” saat dialihkan ke daerah lain, semisal gudeg Jogja yang bikin warga Bandung menjerit karena dianggap bercita rasa mirip permen saking manisnya.

Namun kehadiran seleb pendamping sekarang ini mengubah total sisi “cultural studies” itu. Wisata Kuliner akhirnya menjadi serupa dengan program televisi lain, yang mutlak memerlukan kehadiran pesohor (siapapun itu, meski sudah memasuki tahap senja karier) sebagai syarat terhadap angka rating. Dan ambilan point of view tinjauan budaya itu pun turut mengalami pergeseran.

Tengok raut muka Nadya saat mencicipi kue-kue tradisional yang sukar dijumpai di tempat ia tinggal, yaitu Ibukota. Keterpanaannya bukan jenis keterpanaan yang netral berbekal referensi meski sebatas teori, melainkan keheranan melihat sesuatu yang baru dan tak terpikir sebelumnya.

Tak beda jauh dengan sudut pandang acara Trans TV lain, yaitu Primit, eh… Ethnic Runaway, ketika orang berada dalam keadaan “fish out of the water”, dan melihat sesuatu dari kacamata “kasta” berbeda. Maka yang muncul adalah sejenis culture shock, lalu menyembunyikan ketakutan, keheranan, dan keterkejutan lewat mimik muka bersenyum “manufaktur” dengan bibir bertabur puja-puji tentang “khasanah budaya adiluhung”.

Wisata Kuliner juga cenderung tak menukik pada konsep per episode. Makan berat, snack, dan supper (santap ekstra tengah malam, di dapur gudeg itu, yang dilakukan pukul 23.30) bercampur jadi satu. Dan pemilihan lokasi pun terkesan acak saja “terserah ada ide apa dari Pak Bondan”. Yogyakarta? Lalu Bandung, Semarang, Surabaya, Jakarta? Kota-kota “mainstream” ini sudah terlalu sering dikunjungi. Pemirsa juga sudah hapal jenis-jenis santapan apa saja yang akan dicicipi di tempat-tempat itu.

Ada satu acara kuliner menarik yang bisa diikuti lewat TV berlangganan di kanal National Geographic Channel, yaitu Street Food around the World. Dipandu traveler nan lucu Ishay Golan, tayangan ini menjelajah ke seluruh dunia ke tempat-tempat eksotis seperti Bangkok, Hanoi, Amsterdam, atau Tbilisi untuk mencari… santapan kaki lima.

Street Food kuat dalam konsep karena murni hanya untuk membicarakan kedai-kedai kaki lima, dan bukan apa saja sekehendak tim kreatif atau presenter utama. Tentu acara bersantap disertai dengan obrolan ringan mengenai pernak-pernik makanan, mulai dari asal nama, fungsinya dalam tradisi, dan teknik tertentu untuk menyantapnya.

Wisata Kuliner akan berbeda bila terkonsep semacam itu, setidaknya dalam tiap-tiap episode. Memang ke Bandung, misalnya, tapi khusus mengulas makanan impor yang telah di-hybrid dengan bumbu lokal sehingga bercita rasa lokal pula. Atau ke Banjarmasin khusus untuk bersantap seafood.

Namun culture shock yang paling mengejutkan adalah ketika Bondan mengeluh pusing dan mual setiba di kedai Soto Kadipiro. Lalu dengan senyum “manufaktur” juga Nadya merogoh dari dalam tasnya… tararara! Minyak angin Antimo yang rupa-rupanya menjadi sponsor utama Wisata Kuliner sekarang ini.

Saat melihat wajah Bondan yang mendadak sumringah setelah merasakan aroma semriwing minyak angin, kita menyadari bahwa product placement memang bisa saja menyelinap ke segala bentuk acara. Maka jangan heran jika satu saat nanti, acara siaran langsung RDP di DPR bisa diseling dengan Ketua DPR mengeluh ngantuk lalu wakil ketua menyodorkan minuman suplemen energi! (Wiwien Wintarto)

Nama Tayangan: Wisata Kuliner

Stasiun TV: Trans TV

Hari/Tanggal: Sabtu, 29 Desember 2012

Waktu: 8.25 WIB

Durasi: 30 menit (10 menit jeda komersial)

Iklan: Antimo, Samsung Smart TV, Universal Studio Singapura, AXA, Ferrero Rocher, Pome, Toshiba, Honda CB150R, Adem Sari

Kredit Foto: http://theindonesiahealthy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: